Minggu, 02 Desember 2018

Tafsir muyassar surat An-Naas

📹 Tafsir Al Qur'an Harian 6 : An Naas

https://youtu.be/_gaeei6AyW8

TAFSIR AL-MUYASSAR SURAT AN-NAAS

💐📝TAFSIR AL-MUYASSAR SURAT AN-NAAS

✅Ayat ke-1 Surat anNaas

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia

Tafsir al-Muyassar:

قل -أيها الرسول-: أعوذ وأعتصم برب الناس، القادر وحده على ردِّ شر الوسواس

Katakanlah -wahai Rasul (Muhammad) : aku berlindung dan membentengi diri  kepada tuhannya  manusia (Allah ), karena hanya dia satu- satunya yang Maha mampu menolak keburukan al -was-was. (godaan ; bisikan Syaithan penimbul was-was, pent)

✅Ayat ke-2 Surat anNaas

مَلِكِ ٱلنَّاسِ

Rajanya manusia

Tafsir al-Muyassar:

ملك الناس المتصرف في كل شؤونهم، الغنيِّ عنهم

Allah lah Raja manusia yang mengatur seluruh urusan mereka, Yang Maha Kaya (tidak butuh, pent) dari  mereka.
( Allah adalah  yang mengatur seluruh urusan manusia dan tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang mampu mengatur urusan manusia karena tidak ada daya dan upsya kecuali datangnya dari Allah subhaanahu wa ta'ala.
لا حولاولاقوةإلابالله
Yang Maha Kaya dari manusia artinya Allah tudak butuh adanya manusia, Allah  maha Agung , Maha tinggi,..maha kaya dari manusia dan seandainya seluruh makhluk di bumi ini kufur terhadap Allah maka hal tersebut tidak akan mengurangi ketinggian dan keagungan Allah, karena Allah maha kaya dari makhluknya.

✅Ayat ke-3 Surat anNaas

إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ

Sesembahan manusia

Tafsir al-Muyassar:

إله الناس الذي لا معبود بحق سواه

Makna dari illah adalah tuhannnya manusia yang tidak ada yang layak /patut disembah kecuali Allah subhaa
jadi ada perbedaan antara
رب الناس :
berkaitan dengan rububiyyah Allah : yang menciptakan, mengatur, membetikan rizki, menghidupksn dan mematikan
اله الناس  :
berkaitan dengan illahiyyah Allah bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.
Sesembahan manusia, yang tidak ada sesembahan lain yang berhak diibadahi selainNya
Dan inilah aqidah seorang muslim, hendaklah menghindari peribadahan kepada selain Allah dan hal- hal yg memalingkan dari pengesaan kepada-Nya.

✅Ayat ke-4 Surat anNaas

مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ

Dari keburukan (bisikan) was-was (Syaithan) yang bersembunyi

Tafsir al-Muyassar:

من أذى الشيطان الذي يوسوس عند الغفلة، ويختفي عند ذكر الله

Dari keburukan / gangguan Syaithan yang (membisikkan) was-was saat (manusia) lalai, dan (Syaithan) ; membisikkan dengan bersembunyi (menghindar) saat (manusia itu) berdzikir kepada Allah
(Dan inilah sifat syetan selalu berusaha memalingkan ibadah kepada selaiAllah sehingga dia menggoda dan membisikkan hal - hal yang mrmbuatnya ragu dengan syubhat ,sehingga manusia ragu dengan keagungan Allah ta 'ala.

✅Ayat ke-5 Surat anNaas

ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ

Yang menimbulkan / membisikkan was-was dalam dada manusia

Tafsir al-Muyassar:

الذي يبثُّ الشر والشكوك في صدور الناس.

Yang menyebarkan keburukan dan keraguan dalam dada-dada manusia.
(Dan inilah sifat syetan menyebarkan keraguan ,syubhat, kejelekan tujuannya agar kita berpaling dari menyembah Allah.

✅Ayat ke-6 Surat anNaas

مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Dari kalangan Jin dan Manusia

Tafsir al-Muyassar:

من شياطين الجن والإنس

Dari Syaithan kalangan Jin dan Manusia.
(Ada syetan dari golongan manusia yaitu yang kesehariannya berusaha memalingkan manusia dari kalan yang benar jejalan yang sesat. Orang yang mekemparkan syubhat sehingga kita ragu dengan kebenaran Islam sampai mengatakan agama sama, tumbal adalah tradisi yang tidak mempengaruhi iman dll.)

Kamis, 29 November 2018

Bentuk fiil amr

Sekilas redaksi bentuk kata perintah🌹

الأمر / الطلب يأتي بأربعة صيغ

Redaksi kata perintah dalam bahasa arab ada 4 bentuk

1. Dengan redaksi bentuk Fi'il Amr (صيغة فعل الامر )seperti layaknya bentuk perintah.

Contoh:

افْعَلْ وَفْقَ ماَ تُرِيْد ُ
Lakukanlah sesuai kehendakmu Dalam Alquran:

قال الله تعالى : ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

2.Dengan redaksi Lam Amr yang masuk kedalam Fi'il Mudhari' dan dihukumi jazm.

(صيغة لام الأمر في المضارع المجزوم )

Contoh:
لِتَفْعَلْ وَفْقَ ماَ تُرِيْد

Lakukanlah sesuai kehendakmu

Dalam Alquran:

قال الله تعالى : فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً

3. Dengan menggunakan bentuk Isim Fi'il Amr

Contoh:
صَهْ اذَا قُرِأَ القُرْان
ُ
Diamlah jika AlQuran Dilantunkan Dalam Alquran:

قال الله تعالى : وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا

4. Dengan menggunakan redaksi bentuk Masdar (masdar sebagai pengganti fi'il)

(المصدر النائب عن فعل الامر كما في السؤال)

Contoh:

فِعْلاً مَا تُرِيد

ُLakukanlah apa yang kau inginkan
Contoh I'rabnya:

فعلا : مصدر نائب عن فعله وهو فعل- يفعل منصوب بالفتحة وفاعله ضمير مستتر فيه وجوبا تقديره انت. فِعْلاً التقدير هو " افْعَلْ مَا تُرِيْدُ فِعْلاً "

Contoh dalam Alquran:

قال الله تعالى : وبالوالدين إحسانا، التقدير هو أحسن إحسانا

Berbaiklah kepada kedua orang tua.

============

يَاأَهْلَ المَجْمُوْعَةِ، اسْتِعْدَاداً لِتَعَلُّمِ اللُغَةِ العَرَبِيَةِ بِجِدِيّ عَسَى اللَّهُ أَنْ يُعْطِيَكُمْ جَمِيْعًا عِلْمًا نَافِعًا يَنْتَفِعُ بِهِ الأَخَرُوْنَ

Tafsir Muyassar : Basmalah

Tafsir Al Qur'an Harian 2: Basmalah

https://youtu.be/79btLdB5adY

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ (1)

سورة الفاتحة. سميت هذه السورة بالفاتحة; لأنه يفتتح بها القرآن العظيم,

Surat Al-Fatihah. Surat ini dinamakan dengan “Al-Fatihah” karena Al-Qur’an Al-‘Azhiim dibuka/dimulai dengannya.

وتسمى المثاني; لأنها تقرأ في كل ركعة, ولها أسماء أخر.

Dan surat ini dinamakan juga dengan Al-Matsani, karena ia senantiasa dibaca pada setiap raka’at shalat. Dan surat ini juga memiliki beberapa nama yang lain.

أبتدئ قراءة القرآن باسم الله مستعينا به,

Saya memulai pembacaan Al-Qur’an dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk permintaan tolong kepadaNya.

(اللهِ) علم على الرب -تبارك وتعالى- المعبود بحق دون سواه, وهو أخص أسماء الله تعالى, ولا يسمى به غيره سبحانه.

Lafzhul Jalalah (اللهِ) adalah nama yang menunjukkan atas Ar-Rab -yang Mahasuci lagi Mahatinggi-, satu-satunya yang berhak untuk diibadahi tanpa selainNya, dan nama ini adalah nama yang paling khusus diantara nama-nama Allah ta’ala, dan tidak ada yang boleh dinamai dengan nama ini selain dia semata yang Mahasuci.

(Note: diantara nama Allah dari Asmaul Husna dan boleh dipergunakan untuk nama manusia adalah Kholid)

(الرَّحْمَنِ) ذي الرحمة العامة الذي وسعت رحمته جميع الخلق,

(الرَّحْمَنِ)

yaitu pemilik rahmat yang luas,
yang kasih-sayangnya itu mencakup seluruh makhlukNya.
(Meliputi seluruh makhlukNya baik yang mukmin maupun kafir).

(الرَّحِيمِ) بالمؤمنين, وهما اسمان من أسمائه تعالى، يتضمنان إثبات صفة الرحمة لله تعالى كما يليق بجلاله.

(الرَّحِيمِ)

yaitu yang menyayangi orang-orang yang beriman. Kedua nama ini adalah diantara nama-nama Allah ta’ala. Kedua nama yang disebutkan dalam ayat ini mengandung penetapan sifat rahmat (kasih-sayang) bagi Allah ta’ala sesuai dengan keagunganNya .

Faidah

[Para ulama berselisih tentang lafazh (اللهِ) apakah merupakan kata turunan dari kata lain, ataukah ia merupakan lafazh yang bersifat tauqifi dari Allah. Tapi, yang lebih benar -insya Allah- bahwa lafazh ini bersal dari kata (الإلٰه) ]

[Penetapan sifat-sifat seperti ini sangat penting, karena ada golongan dalam ummat Islam yang menafikan adanya sifat rahmat (kasih-sayang) bagi Allah. Mereka beranggapan bahwa penetapan sifat tersebut sama saja menyerupakan Allah dengan makhluk. Padahal ayat-ayat dan hadits-hadits banyak yang menetapkan sifat ini bagi Allah.]

[Jika mau difikirkan sejenak, sebenarnya mereka yang menolak penetapan sifat-sifat bagi Allah dengan alasan tasybih (penyerupaan) atau tajsim (memfisikkan), mereka itu sendirilah yang melakukan penyerupaan (tasybih) dan memfisikkan (tajsim) antara sifat Allah dengan makhlukNya. Karena kita yang menetapkan hal tersebut, hanyalah menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah sesuai apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an atau yang dijelaskan Rasulullah dalam hadits yang shahih, tanpa mempermaslahkannya.]

[Metode yang benar dalam memahami ayat-ayat maupun hadits-hadits tentang sifat Allah adalah kita menetapkan apa yang ditetapkan dalam dalil tersebut tanpa menyerupakannya dengan makhluk.]

Rabu, 28 November 2018

Tafsir Al Muyassar (Tafsir Al Qur'an yang mudah )

Bismillah.

Alhamdulillah berikut ini kami sajikan sebuah tautan untuk mengunduh pdf kitab tafsir al-Qur’an yang disusun oleh tim ulama dan diterbitkan oleh Percetakan Raja Fahd Saudi Arabia untuk diwakafkan di jalan Allah. Kitab ini berjudul ‘at-Tafsir al-Muyassar’

Silahkan unduh pdf kitab dari sini [klik]

Atau ini https://drive.google.com/file/d/1gqBfTMbz6Wd0-w51Q_6jiQR8IPffFb9g/view?usp=drivesdk

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

# Sumber : http://moswarat.com

Kitab At Tafsir al Muyassar ini adalah sebuah tafsir terbitan dari Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif -Lembaga yang berkedudukan di Madinah al-Munawwarah- yang telah mencetak jutaan Mushhaf al-Qur`an beserta terjemahnya ke dalam berbagai bahasa dunia untuk disebarkan ke seluruh dunia.
Kitab Tafsir ini disusun oleh kumpulan Pakar Tafsir di bawah bimbingan Syaikh Sholih bin Abdul ‘Aziz Aalu Asy Syaikh.
Terkhusus Kitab at-Tafsir al-Muyassar ini, sudah banyak pujian dan sanjungan terhadap buku ini, baik dari kalangan thullab ‘ilm (penuntut ilmu syar’i) maupun dari kalangan para ahli tafsir.

Alhamdulillah, ada kesempatan belajar online Tafsir Muyassar bersama Yayasan BISA. Beberapa kesempatan juga menyimak kajian dari video Program Nyantrend yang asuh oleh Ustadz Hasan Al-Jaizy yang rutin mengkaji kitab ini.

Apa yang kami posting di sini adalah terjemah dan faidah yang kami dapatkan dari keduanya dalam kajian tersebut.

Semoga Allah menjadikannya sebagai amal yang barakah dan diterima.

Tafsir Muyassar : Isti'adzah

https://youtu.be/RAx6DSwOTak

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطـٰـنِ الرَّجِيمِ شرع الله تعالى لكل قارئ للقران العظيم، أن يستعيذ بالله من الشّيطان الرجيم، قال سبحانه: فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ [النحل – الآية ٩٨]

Allah ta’ala men-syari’at-kan bagi setiap pembaca Al-Qur’an Al-‘Azhim ( yang Agung) agar mereka memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Allah berfiman dalam surat An-Nahl ayat 98 (artinya) : “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk."

ذلك لأنّ القران الكريم هداية للناس و شفاء لما في الصدور، والشيطان سبب الشرور والضلالات، فأمر الله سبحانه كل قارئ للقران أن يتحصّن به سبحانه من الشيطان الرجيم، ووساوسه، وحزبه.

Hal itu karena Al-Qur’an Al-Karim ( yang mulia) adalah merupakan hidayah (petunjuk) bagi ummat manusia, dan obat penyembuh bagi (qalbu/hati) yang ada di dalam dada, sedangkan setan adalah penyebab berbagai keburukan dan kesesatan. Maka Allah yang Mahasuci memerintahkan kepada setiap orang yang akan membaca Al-Qur’an agar mereka membentengi diri dengan Allah yang Mahasuci dari setan yang terkutuk, gangguan was-wasnya dan golongan-golongan setan/ bala tentaranya.

وأجمع العلماء على أن الاستعاذة ليست من القران الكريم؛ ولهذا لم تكتب في المصاحف.

Para ulama telah bersepakat bahwasanya bacaan isti’adzah tidak termasuk bagian dari Al-Qur’an Al-Karim; oleh karena ituah ia tidak ditulis dalam mushaf-mushafnya.

ومعنى (أعوذ بالله) : أستجير، و أتحصّن بالله وحده.

Makna (أعوذ بالله) adalah aku meminta perlindungan / istighotsah dan aku membentengi diri dengan Allah saja.

ومعنى (من الشيطان) أي: من كل عات متمرّد من الجنّ و الإنس، يصرفني عن طاعة ربّي، وتلاوة كتابه.

Makna (من الشيطان) adalah dari setiap penyeleweng yang sangat angkuh ; ingkar / membangkang dari kalangan jin dan manusia, yang akan memalingkan aku dari menta’ati Rabb-ku dan dari membaca kitabNya.

ومعنى (الرجيم) أي: المطرود من رحمة الله

Makna (الرجيم)  adalah : yang diusir dari rahmat Allah.

Faidah :
-[Kata Ar-Rajiim adalah Isim Fa’il yang Memiliki Makna Isim Maf’uul.
Maka artinya adalah yang dilemparkan/dijauhkan dari rahmat Allah, atau yang dilempari dengan bintang oleh para Malaikat.]

[Al-Qur’an Al-Karim adalah petunjuk bagi manusia, walaupun mereka yang masih kafir. Yaitu petunjuk bagi mereka ke jalan dan agama yang lurus.]

-[Jin yang dibelenggu pada bulan Ramadhan hanya jin-jin yang sangat membangkang.]

Kamis 29 Desember 2018

Senin, 19 November 2018

Cara membaca jam

Cara membaca jam dalam bahasa Arab...
                                         

Jam 01.00   

                                  اَلسَّاعَةُ الْوَاحِدَةُ

Jam 02.00       

                                 اَلسَّاعَةُ الثَّانِيَةُ

Jam 03.00   

                                     اَلسَّاعَةُ الثَّالِثَةُ

Jam 08.00     

                                   اَلسَّاعَةُ الثَّامِنَةُ

Jam 10.00
      اَلسَّاعَةُ الْعَاشِرَةُ

Jam 11.00    
      اَلسَّاعَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ

Jam 12.00          
      اَلسَّاعَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ

Jam 15.00                 
     اَلسَّاعَةُ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ

Jam 20.00        
     اَلسَّاعَةُ الْعِشْرُوْنَ

Jam 21.00             
     اَلسَّاعَةُ الْحَادِيَةُ وَ الْعِشْرُوْنَ

Jam 22.00       
     اَلسَّاعَةُ الثَّانِيَةُ وَ الْعِشْرُوْنَ

Jam 24.00             
     اَلسَّاعَةُ الرّاَبِعَةُ وَ الْعِشْرُوْنَ

Jam 01.05         
    اَلسَّاعَةُ الْوَاحِدَةُ وَ خَمْسُ دَقَائِقَ

Jam 02.02                
   اَلسَّاعَةُ الثَّانِيَةُ وَ دَقِيْقَتَانِ

Contoh lain :

Jam 07.10       

        اَلسَّاعَةُ السَّابِعَةُ وَ عَشْرُ دَقَائِقَ

Jam 08.17  

     اَلسَّاعَةُ الثَّامِنَةُ وَ سَبْعَ عَشْرَةَ دَقِيْقَةً

Jam 05.33     

    اَلسَّاعَةُ الْخّامِسَةُ وَ ثَلاَثٌ وَ ثَلاَثُوْنَ

Contoh lain :

- Jam 02.45 (Jam 3 kurang seperempat)

اَلسَّاعَةُ الثَّالِثَةُ إِلاَّ الرُّبْعَ

- Jam 24.47 (Jam 1 kurang 13 menit)

اَلسَّاعَةُ الْوَاحِدَةُ إِلاَّ ثَلاَثَ عَشْرَةَ دَقِيْقَةً

- Jam 11. 50 (Jam 12 kurang 10 menit)

اَلسَّاعَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ إِلاَّ عَشْرًا

- Jam 05.54 (Jam 6 kurang 6 menit)

اَلسَّاعَةُ السَّادِسَةُ إِلاَّ سِتًّا

Keterangan Kata Dari Jam :

Lebih              =           وَ

Kurang          =          إِلاَّ

Jam                =     سَاعَةٌ

Menit             =     دَقِيْقَةٌ

Seperempat  =      الرُّبْعُ

Contoh :

كَمِ السَّاعَةُ اْلآنَ ؟ / فِى أَيَّةِ سَاعَةٍ نَحْنُ اْلآنَ ؟

نَحْنُ اْلآنَ فِى اَلسَّاعَةِ الْعَاشِرَةِ

- Jam berapakah sekarang ?
   Kita sekarang pada jam 10.00

أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ فِى السَّاعَةِ السَّبِعَةِ

- Saya pergi ke sekolah pada jam tujuh.

Kamis, 19 Februari 2015

MENGENAL FUNGSI NIAT


Mengenal Fungsi Niat

Keinginan hati untuk melakukan suatu amalan, itulah makna daripada niat. Niat merupakan perkara yang amat penting dalam Islam. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan bahwa segala amal perbuatan itu tergatung pada niat Si Pelaku. Seorang mendapatkan buah dari amalannya sesuai keadaan niat dalam hatinya. Dalam sebuah hadist yang masyhur, disampaikan oleh sahabat Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahua’laihi wasallam bersabda,

إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR Bukhari & Muslim)
Oleh karenya para ulama memberikan perhatian cukup besar terhadap perkara niat ini. Sampai-sampai mereka mengarang sebuah kitab yang hanya membahas permasalahan niat. Sebut saja Abu Bakr bin Abid Dun-ya rahimahullah, beliau telah mengarang sebuah kitab yang khusus membahas permasalahan ini. Judulnya Al-ikhlas wan Niyyah (ikhlas dan niat). Ini menunjukkan bahwa niat tak bisa dipandang sebelah mata. Dan seorang akan menyadari urgensi niat bila ia mengerti betapa besar fungsi daripada niat ini.

 Apa fungsi niat ?

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menyebutkan dalam kitab beliau Jami’ al-‘ulum wal hikam mengenai fungsi dari niat, bahwa ada dua fungsi niat:
Pertama, Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dengan kebiasaan.
Kedua, Membedakan tujuan seseorang dalam beribadah. Jadi apakah seorang beribadah karena mengharap wajah Allah ataukah ia beribadah karena selain Allah, seperti mengharapkan pujian manusia.
(Lihat: Jami’ al-‘ulum wal hikam, hal. 67).
Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lain. Contohnya, shalat yang dua raka’at itu banyak. Ada shalat yang wajib dan tak sedikit shalat sunah yang dua raka’at. Kita ambil contoh shalat qabliyah subuh dengan shalat subuh. Keduanya berjumlah dua raka’at. Tata caranya pun sama, jumlah ruku’ dan sujudnya juga sama.Sama-sama diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Lalu apa yang memedakan antara dua raka’at qabliyah subuh dengan dua raka’at shalat subuh? Itu lah niat yang membedakan antara keduanya.
Atau membedakan antara ibadah dengan kebiasaan. Misal, antara mandi junub dengan mandi biasa. Dari segi tatacara sama; sama-sama mengguyurkan air keseluruh badan. Sama-sama pakai sabun, dan sama-sama keramas juga. Lalu apa yang membedakan? Niat yang membedakannya. 
Jadi amalan yang pada asalnya hanya kebiasaan bisa bernilai ibadah bila diniati ibadah.
Kemudian fungsi niat kedua adalah Membedakan tujuan seseorang dalam beribadah . Pembahasan inilah yang sering kita kenal dengan istilah ikhlas. Jadi apakah seorang tatkala ia beribadah ikhlas lillahi ta’ala, atau hanya mengharap perhatian manusia?
Dan kita tahu bahwasannya Allah ta’ala tidak akan merima amalan seorang hamba melainkan yang dilakukan karena ikhlas mengharap keridhaan-Nya semata. Karena Allah ta’ala Maha Kaya, Dia tidak butuh persekutuan dalam peribadatan kepadaNya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah ta’ala berfirman,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syirknya.” (HR. Muslim)
Fungsi niat yang kedua ini pula yang seringkali dimaksudkan dalam perkataan-perkataan ulama salaf. Seperti perkataan seorang alim; Abdullah bin Mubarak rahimahullah,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية
“Boleh jadi amalan yang sepele, menjadi besar pahalanya disebabkan karena niat. Dan boleh jadi amalan yang besar, menjadi kecil pahalanya karena niat. ”

Jadi dari fungsi niat yang kedua ini kita dapat menyimpulkan bahwa niat akan mempengaruhi kadar pahala yang diperoleh seorang hamba. Semakin murni keikhlasannya, semakin besar pahala yang akan ia dapat. Walau amalan yang ia lakukan ringan. Dan Semakin kecil kadar keikhlasan seorang hamba; walau amalan yang ia lakukan adalah amalan yang berpahala besar, namun bila keikhlasan dalam hatinya kecil, maka semakin kecil pula pahala yang ia peroleh.
Juga perkataan ulama salaf lainnya seperti Yahya bin Abi Katsir rahimahullah,

تَعَلَّمُوا النِّيَّةَ فَإِنَّهَا أَبلَغُ مِنَ العَمَل
“Pelajarilah niat, karena ia lebih dahulu sampai di sisi Allah daripada amalan“
Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata,

صَلاَحُ القَلبِ بِصَلاَحِ العَمَلِ، وَ صَلاَحُ العَمَلِ بِصَلاَحِ النِّيَّة

“Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Dan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat“
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah,

مَا عَالَجتُ شَيئًا أَشَدُّ عَليَّ مِن نِيَّتِي لأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَليّ
“Tidak ada sesuatu yang paling berat untuk saya obati, kecuali masalah niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik dalam diriku“.
Sedangkan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا 
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Ali Imran : 29 )
Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.(QS.Az-Zumar : 65 )
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.”[3] An Nawawi mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” [Syarh Muslim, An Nawawi, 9/370, Mawqi’ Al Islam.)
Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سنن أبي داوود ٣١٧٩: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ أَبِي طُوَالَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Sunan Abu Daud 3179: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu'man telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Abu Thuwalah Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar Al Anshari dari Sa'id bin Yasar dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat."
Dari gambaran yang dikemukan diatas maka dapatlah difahami bahwa sesungguhnya melakukan amalan pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala harus berlandaskan kepada niat yang ikhlas, dimana seluruh bentuk ibadah itu hanya semata murni ditujukan terhadap Allah azza wa jalla , dan bersih dari segala kotoran yang dinamakan syirik.

Pentingnya Niat dalam Belajar

Di antara ibadah yang paling penting yang mudah mendekatkan seorang hamba pada Allah adalah tholabul ‘ilmi atau belajar ilmu agama. Sedangkan perkara yang amat penting yang perlu diperhatikan dan selalu dikoreksi adalah niat dalam belajar. Tidak ada kebaikan yang diperoleh jika seseorang ketika belajar malah ingin mencari ridho selain Allah. Oleh karena itu, para ulama sangat memperhatikan niatnya dalam belajar apakah sudah benar ataukah tidak karena jika tidak ikhlas, maka dapat mencacati ibadah yang mulia ini.
Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata,

طلبنا هذا العلم لغير الله فأبى الله أن يكون لغيره
“Kami menuntut ilmu awalnya berniat mencari ridho selain Allah. Kemudian Allah tidak ingin jika niatan tersebut kepada selain-Nya.”
Ulama salaf lainnya berkata,

طلبنا العلم وما لنا فيه كبير نية ، ثم رزقنا الله النية بعد .أي فكان عاقبته أن صار لله.
“Kami awalnya dalam menuntut ilmu tidak punya niatan yang kuat. Kemudian Allah menganuriakan kami niat yang benar setelah itu”. Maksudnya, akhirnya niatan kami ikhlas karena Allah.

Bagaimanakah niat yang benar dalam menuntut ilmu?

Syaikh ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir mengatakan bahwa ada tiga perkara yang mesti dipenuhi agar seseorang disebut memiliki niatan yang benar dalam menuntut ilmu.

 1. Menuntut ilmu diniatkan untuk beribadah kepada Allah dengan benar.
 2. Berniat dalam menuntut ilmu untuk mengajarkan orang lain. Sehingga para ulama seringkali mengatakan bahwa hendaklah para pria menguasai perkara haid agar bisa nantinya mengajarkan istri, anak dan saudara perempuannya.
Imam Ahmad ditanya mengenai apa niat yang benar dalam belajar agama. Beliau menjawab, “Niat yang benar dalam belajar adalah apabila belajar tersebut diniatkan untuk dapat beribadah pada Allah dengan benar dan untuk mengajari yang lainnya.”
Dari sini menunjukkan bahwa niat belajar yang keliru adalah  jika ingin menjatuhkan atau mengalahkan orang lain atau ingin mencari kedudukan mulia di dunia. Anas bin Malik berkata,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ يُبَاهِي بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ يُمَارِي بِهِ السُّفَهَاءَ ، أَوْ يَصْرِفُ أَعْيُنَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Hakim dalam Mustadroknya)

3. Istiqomah atau terus menerus dalam amal dan menuntut ilmu butuh waktu yang lama (bukan hanya sebentar).

Dalam belajar itu butuh kesungguhan. Muhammad bin Syihab Az Zuhri berkata,

العلم إذا أعطيته كلك أعطاك بعضه
“Yang namanya ilmu, jika engkau memberikan usahamu seluruhnya, ia akan memberikan padamu sebagian.”
Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Katsir berkata,

لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
“Ilmu tidak diperoleh dengan badan yang bersantai-santai.” (HR. Muslim no. 612).

Abu Hilal Al Asykari (seorang penyair) awalnya sulit menghafalkan bait sya’ir. Kemudian ia memaksakan dirinya dan berusaha keras, awalnya ia bisa menghafalkan 10 bait. Karena ia terus berusaha, ia akhirnya bisa menghafalkan 200 bait dalam sehari. Amalan yang bertujuan untuk mendekatkan diri seseolrang hamba kepada Allah, hanya dapat diterima bila disertai dua syarat yaitu

1)      Mengikhlaskan amalan untuk Allah semata yang tidak ada sekutu baginya. Karena sesuai dengan sabda Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa : “ Sesungguhnya amalan itu hanya akan dinilai bil;a disertai dengan niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang akan mendapatkan pahala sesuai yang dia niatkan

2)       Mencontoh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam beramal. Mereka yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah dan dalam melakukan ibadah itu ia mencontoh Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka amalannya tersebut akan diterima . Sementara mereka yang kehilangan keikhlasan dan kehilangan ittiba’ kepada Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam atau kehilangan salah satu dari keduanya, maka amalannya itu akan tertolak, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا.

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan], lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.(QS. Al-Furqon: 23)

Allohu a'lam. 
Semoga bermanfaat.